Kamis, 03 November 2011

Berjuang di Dunia

Saat perang berkecamuk, tiada yang sempat mengaku sebagai pahlawan. Semua sedang fokus. Para pemberani berprinsip: menang atau mati. Sedangkan para pengecut berprinsip: menang atau kalah yang penting selamat. Anehnya, ketika perang usai yang tidak pernah pegang senjata pun saling berlomba-lomba mengakukan diri sebagai pahlawan. Lebih tepatnya pahlawan kesiangan.

Kita berjuang di dunia bukan untuk mengejar label pahlawan. Bukan pula sekedar berprinsip menang atau mati. Tapi, berjuang di dunia kita harus memegang prinsip: menang dan hidup sebagai ksatria atau mati sebagai syuhada.

Menang dan hidup sebagai ksatria artinya kita tidak sekedar ikut mencicipi kemenangan tapi juga ikut berjuang. Tidak sekedar menjadi penonton, pengungsi, pengecut apalagi penghianat. Kita hidup dan meraih kemenangan betul-betul sebagai pejuang dan bukan pahlawan kesiangan. Adapun bila maut menghampiri, gelar syuhada yang harapannya kita sandang. Sehingga, bolehlah raga tidak sempat mencicipi kemenangan itu sewaktu di dunia tapi kita insyaAllah bisa menikmatinya saat di surga.

Saat ini kita tengah berjuang. Esok kita berjuang. Lusa juga berjuang. Sepanjang nafas masih tersisa, perjuangan akan senantiasa kita rasa. Jangan menganggap bahwa berjuang hanya di ramadhan saja dengan melawan setan durjana. Jangan pula menganggap berjuang selalu bermakna di medan tempur seperti halnya perang badar maupun perang uhud.

Berjuang di dunia bisa bermakna memacu diri. Ya, musuhnya adalah diri kita sendiri. Kita lawan kemalasan kita dengan berjuang. Kita lawan kebodohan kita dengan belajar. Kita lawan penghambur-hamburan waktu kita dengan prodktivitas dan karya. Entah karya duniawi maupun karya ukhrawi.

Ramadhan yang kita jalani saat ini tidak akan bisa kembali lagi di tahun berikutnya. Keistimewaan bulan syawal yang tidak kita isi dengan 6 hari puasa juga akan berlalu bila kita tidak mengisinya. Demikian pula dengan usia-usia yang kita lewati maupun nafas-nafas yang sudah kita hembuskan. Semuanya akan pergi menjadi masa lalu.

Untuk itulah seorang mukmin dituntut perjuangannya. Ia mesti memberikan kontribusi yang besar dalam kehidupan di dunia ini. Apapun posisinya, apapun profesinya, kontribusi haruslah ada agar hidupnya senantiasa bermakna.

Sabtu, 28 Maret 2009

DON'T CRY

Alangkah bahagianya jika cinta yang hendak kita bingkai dalam nuansa indah pernikahan, mendapatkan sapaan lembut, sambutan hangat serta sunggingan senyum dari dia yang kita dambakan. Namun betapa nestapanya ketika cinta tulus yang kita ungkapkan ternyata harus bertepuk sebelah tangan.

Saat diri berusaha menjaga kesucian hati, kebersihan pandangan serta kejernihan pikiran dari ranjau-ranjau syetan yang menjerumuskan.

Saat diri berusaha menjaga diri dari dosa, merajut tali kasih di atas cinta-Nya. Untuk menyempurnakan separuh agama-Nya.

Ya, buku ini hadir sebagai penawar luka, pengobat duka, serta perekat kembali kepingan-kepingan hati yang pernah patah karena cinta. Cinta yang hendak dibingkai indah dalam ikatan pernikahan. Namun kandas ditengah jalan.Tertolaknya cinta memang menyakitkan. Namun, boleh jadi merupakan titian menuju proses pendewasaan. Menjadi pribadi penuh potensi. Melangkah lebih pasti dengan sejuta prestasi.! Penasaran?

Rabu, 04 Februari 2009

KUJEMPUT JODOHKU

Ya Akhi, jika saat ini engkau sedang mengalami kesendirian dalam menanti sang pujaan, yakinlah bahwa dirinya yang akan segera diberikan sedang melakukan hal yang sama. Si dia sedang dididik dan ditempa oleh-Nya untuk menjadi pendamping lelaki sepertimu.

Ya Ukhti, engkau pun demikian. Jangan berkecil hati dan sempit pandangan hanya karena dia yang pernah menjadi pujaan, diyakini menjadi teman perjuangan, justru bukan sebaik-baik pilihan. Allah pasti sudah menyiapkan gantinya yang jauh lebih baik; jauh lebih saleh, jika engkau berupaya menjaga dirimu.

Tiada yang salah dengan janji-Nya. Tiada yang meleset dengan ketetapan-Nya. Tiada yang keliru dengan segala iradat-Nya. Semua telah dituliskan. Setiap kejadian telah dibukukan.

Oleh karena itu, sudah bukan saatnya lagi untuk merenung, menangis, menyesali diri, apalagi sampai menyalahkan takdir yang telah terjadi. Ciptakan mimpi, raih prestasi. Jemputlah sang kekasih pujaan hati dengan penuh keyakinan dan tetap menjaga semangat tinggi.Engkau berani?